Beranda / Blog

Bangunan Sejarah di Indonesia Dahulu dan Sekarang

 24/07/2021

Wilson Samosir

Bangunan sejarah Candi Borobudur merupakan salah satu diantara kehebatan Indonesia sejak dahulu yang megah berdiri hingga sekarang.

Selain itu ada banyak bangunan sejarah di Indonesia yang patut dibanggakan dan diketahui, baik dari proses pembuatan, maupun arsitektur. Diantaranya Monas, Gedung Sate, Klenteng Sam Poo Kong, Istana Maimun, Masjid Raya Baiturrahman, Jam Gadang, Tugu Khatulistiwa, dan Benteng Fort Rotterdam.

Candi Borobudur

Candi Borobudur diperkirakan mulai dirancang pada abad ke-9 yang mana saat itu wilayah Magelang saat ini dikuasai oleh Dinasti Syailendra yang dipimpin oleh Raja Samaratungga. Raja bertitah untuk membangun sebuah pembangunan Candi yang kala itu dipimpin oleh seorang arsitek bernama Gunadharma.

Tanpa bantuan kecanggihan teknologi masa kini, Gunadharma menggambar Candi Borobudur yang luasnya mencapai ratusan meter persegi itu. Borobudur dapat diselesaikan dalam waktu 50-70 tahun kemudian. Yang mana konon Gunadharma sendiri tidak melihat hasil akhirnya.

Nama Borobudur sendiri berarti ‘Vihara Buddha Uhr’ yang berasal dari bahasa Sansekerta dan berarti Biara Buddha di bukit. Memang saat itu, Borobudur terletak di sebuah bukit.

Candi Borobudur dahulu. Dok. Tropenmuseum.

Candi Borobudur sekarang. Foto: Kompas.

Monumen Nasional (Monas)

"Presiden Soekarno sudah memikirkan membangun sesuatu yang monumental seperti Menara Eiffel (Paris)," ungkap pemerhati sejarah Jakarta, Adolf Heuken.

Pembangunan Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi penerus bangsa.

Monas diarsiteki Sudarsono dan Frederich Silaban dengan konsultan Ir. Rooseno.

Sudarsono lalu memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen nasional.

Menurut sejumlah sumber disebutkan Monas dibuka untuk umum oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin dan Presiden RI kedua, Soeharto, pada 12 Juli 1975.

Monas Tahun 1980. Foto: Kompas / Kartono Ryadi.

Monas Tahun 2018. Dhemas Reviyanto / ANTARA.

Gedung Sate

Pembangunan Gedung Sate dimulai pada 1920 di masa penjajahan Belanda. Dengan waktu sekitar empat tahun, mulai 1920 sampai 1924.

Disebut Gedung Sate karena memiliki ciri khas berupa 6 tusuk sate yang terletak di atas menara. Enam tusuk sate itu melambangkan 6 juta Gulden biaya pembangunannya.

Arsitekturnya mengadopsi budaya Eropa, Asia, dan Nusantara. Ada bagian yang menyerupai masjid atau nuansa Islam, ada juga candi, dan ornamen bernuansa Eropa. Di bagian timur dan barat terdapat dua ruang besar atau ballroom yang umumnya terdapat pada bangunan di Eropa.

Pembangunannya merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang terdiri dari Ir. J. Gerber, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng, diketuai Kol. Pur. VL. Slors.

Gedung Sate dahulu. Dok. Humas Jabar.

Gedung Sate sekarang. Dok. Humas Jabar.

Klenteng Sam Poo Kong

Nama Sam Poo Kong diambil dari nama Cheng Ho (Zheng He). Dia terlahir dengan nama Ma San Bao. Dalam dialek Hokkian, Sam Poo Kong atau San Bao Dong (Mandarin) memiliki arti Gua San Bao.

Berdasarkan jejak yang terekam dalam kelenteng itu, Cheng Ho merupakan seorang laksamana asal Tiongkok yang beragama Islam. Pada 1416, dia merapat di pantai Simongan – Semarang karena juru mudinya, Wang Jing Hong, menderita sakit keras. Oleh karena itulah, mereka harus menetap sementara di sebuah gua batu. Sementara juru mudinya menyembuhkan diri, Cheng Ho melanjutkan pelayaran ke Timur untuk menuntaskan misi perdamaian dan perdagangan keramik serta rempah-rempah.

Selama di Simongan, Wang memimpin anak buahnya menggarap lahan, membangun rumah dan bergaul dengan penduduk setempat. Lingkungan sekitar gua jadi berkembang dan makmur karena aktivitas dagang maupun pertanian.

Dahulu pada 1417 Wang Jing Hong mendirikan Patung Cheng Ho di gua batu untuk menghormati Cheng Ho. Sekarang telah berkembang menjadi Klenteng Sam Poo Kong yang dijadikan tempat pemujaan atau bersembahyang, dan berziarah.

Pembangunan secara serius dilakukan pada 1965, bersamaan dengan terbentuknya Yayasan Sam Poo Kong. Dan 2002, kawasan ditata secara besar-besaran. Hingga 2005 bangunan utama memiliki tampilan baru yang lebih megah, luas, dan nyanan.

Klenteng Sam Poo Kong dahulu. Foto: Semarangtempodoeloe.blogspot.com.

Klenteng Sam Poo Kong sekarang. Dok. Pemkot Semarang / Semarangkota.go.id.

Istana Maimun

Istana Maimun merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang didirikan Sultan Mahmoed Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 pada Kesultanan Deli. Istana berdiri sejak 125 tahun silam, tepatnya pada 26 Agustus 1888.

Arsitekturnya memadukan beberapa unsur budaya Melayu bergaya Islam, Spanyol, India, serta Italia ini memang cukup unik dan benar-benar menghasilkan karakter yang khas. Pengaruh Eropa tampak dari lampu gantung yang menghiasi setiap ruangan, meja, kursi, lemari, jendela, hingga pintu-pintunya. Ada pula prasasti dari batu marmer yang ditulis dalam bahasa Belanda. Pengaruh Islam terlihat dari bentuk lengkung (arcade) pada bagian atap yang menyerupai bentuk perahu terbalik (lengkung persia) yang lazim dijumpai pada bangunan-bangunan di kawasan Timur Tengah.

Istana Maimun didesain oleh arsitek dari Belanda, Capt. Theodoore van Erp. Pembangunan istana atas perintah Sultan Deli kala itu.

Istana Maimun Tahun 1900. Dok. Tropenmuseum.

Istana Maimun sekarang. Foto: Portoalegre.travel.

Masjid Raya Baiturrahman

Bangunan sejarah Masjid Raya Baiturrahman yang berarsitektur mughal khas India berdiri pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh Darussalam.

Kemudian Kerajaan Belanda membangun kembali bangunan sejarah ini pada 1879. Rancangannya dibuat oleh arsitek asal Belanda, Gerrit Bruins, lalu diadaptasi oleh L.P. Luijks, dan diawasi oleh kontraktor bernama Lie A Sie.

Akan tetapi bangunan sejarah tersebut selesai dibangun kembali pada 27 Desember 1881 pada masa kekuasaan Sultan Aceh terakhir, Muhammad Daud Syah.

Hampir keseluruhan bangunan selamat dari peristiwa gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang hanya mendapatkan sedikit kerusakan seperti beberapa dinding yang retak.

Masjid Raya Baiturrahman menjadi simbol agama, budaya, jiwa, ketangguhan, dan perjuangan masyarakat Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman dahulu. Dok. Tropen Museum.

Masjid Raya Baiturrahman sekarang. Foto: Islamic-center.or.id.

Jam Gadang

Monumen Jam Gadang setinggi 26 meter berdiri di atas bangunan dasar seluas 13 x 4 meter di tengah Taman Sabai Nan Aluih. Lokasinya dikelilingi oleh Pasar Bawah, Pasar Atas, Plaza Bukittinggi dan Istana Bung Hatta, serta dianggap sebagai patokan titik sentral (titik nol) Kota Bukittinggi. Kata “gadang” pada nama Jam Gadang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “besar”. Karena ukuran jam yang terdapat di keempat sisi menara tersebut memang cukup besar, diameternya mencapai 80 sentimeter, sehingga bangunan sejarah tersebut dinamakan seperti itu.

Jam Gadang dibangun oleh Pemerintah Hindia-Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda. Jam ini merupakan hadiah bagi Sekretaris Kota atau controleur Fort de Kock (Bukittinggi) yang menjabat saat itu yakni HR Rookmaaker. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rookmaaker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Menara jam ini dirancang oleh arsitek asli Minangkabau, Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Pembangunannya secara resmi selesai pada 1926 dengan menghabiskan dana mencapai 3.000 Gulden, sebuah nilai yang cukup besar saat itu.

Sejak pertama kali dibangun, Jam Gadang telah mengalami perubahan khususnya pada bagian atapnya. Dahulu atap menara berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya yang menghadap ke arah timur. Pada masa penjajahan Jepang, atap tersebut direnovasi menjadi bentuk seperti Pagoda atau Klenteng. Kemudian setelah Indonesia merdeka, atap menara tersebut diubah menjadi bergaya bagonjong seperti adat rumah Minangkabau sekaligus menjadi simbol dari suku Minangkabau.

Renovasi terakhir pada bangunan dilakukan pada 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) yang bekerja sama dengan Pemkot Bukittinggi dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan pada tanggal 22 Desember 2010, tepat pada HUT Bukittinggi yang ke-262.

Jam Gadang dengan menara berbentuk bulat dan patung ayam jantan di atasnya. Dok. KITLV.

Jam Gadang dengan menara berbentuk Adat Minangkabau. Foto: Cirana Merisa / GRID.id.

Tugu Khatulistiwa

Pontianak adalah satu-satunya kota di Indonesia yang berada di garis khatulistiwa. Untuk itu, di masa Hindia Belanda berkuasa, didirikanlah sebuah bangunan sejarah untuk menandai letak garis khatulistiwa.

Tugu Khatulistiwa pertama kali dibangun pada 1928 dengan bentuk tonggak yang terdapat tanda panah dibagian atas yang menunjuk arah mata angin.

Bangunan sejarah ini disempurnakan lagi oleh Silaban pada 1938. Bentuknya menjadi lebih rumit dan unik. Dahulu tugu terbuat dari kayu belian (kayu besi, atau kayu ulin) terdiri dari empat tonggak yang man 2 buah tonggak bagian depan dengan tinggi 3,05 meter dari permukaan tanah, 2 buah tonggak bagian belakang dengan tinggi 4,40 meter dari permukaan tanah. Keterangan simbol berupa anak panah menunjukkan arah utara – selatan (lintang 0 derajat). Keterangan simbol berupa flat lingkaran yang bertuliskan “EVENAAR” yang artinya khatulistiwa dalam Bahasa Belanda, yang menunjukan belahan garis atau batas utara dan selatan. Sedangkan plat di bawah arah panah ditulis “109° 20’ OLVGR”, artinya garis khatulistiwa di Kota Pontianak bertepatan dengan 109 derajat garis Bujur Timur 20 Menit 00 detik GMT.

Sekarang sejak 1990 dibuatlah kubah dan duplikat tugu ini dengan ukuran 5 kali lebih besar dari ukuran sebelumnya dan telah diresmikan pada tanggal 21 September 1991.

Tugu Khatulistiwa dahulu. Dok. Pemkot Kota Pontianak.

Tugu Khatulistiwa sekarang. Foto: Ni Made Gunarsih / Tribun Pontianak.

Benteng Fort Rotterdam

Benteng Fort Rotterdam, atau dikenal juga dengan nama Benteng Ujung Pandang, merupakan bangunan sejarah dan embrio Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Jika dilihat dari ketinggian, bentuknya menyerupai penyu yang merayap menuju laut sehingga bangunan ini kerap pula disebut Benteng Penyu.

Bangunan sejarah di Makassar ini mulai dibangun pada 1545 semasa Raja Gowa IX. Arsitekturnya mengadopsi gaya Portugis; berbentuk segi empat dan berbahan dasar campuran batu dan bata. Pada masa Raja Gowa XIV, temboknya diganti dengan batu padas hitam, batu karang, dan bata dengan perekat kapur dan pasir. Pada tahun berikutnya, dibangun lagi tembok kedua di dekat pintu gerbang.

Namun VOC yang dipimpin Gubernur Jenderal Admiral Cornelis Janszoon Speelman menyerang dan berhasil memaksa Gowa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Semua bangunan dirobohkan, kecuali Benteng Ujung Pandang. Bagian yang hancur kembali dibangun oleh Speelman dengan gaya arsitektur kolonial. Nama pun diubah menjadi Fort Rotterdam, sesuai tempat kelahiran Speelman.

Fort Rotterdam memiliki luas sekira 3 hektar. Ada lima bastion (pos penjagaan) di setiap sudut: Bone, Bacan, Buton, Mandarasyah, dan Amboina. Tiap bastion dihubungkan dengan dinding, kecuali bagian selatan. Untuk naik ke bastion terdapat terap dari susunan batu padas hitam dan batu bata. Bastion memiliki celah yang berfungsi sebagai tempat mengintai atau menembak.

Benteng Fort Rotterdam Tahun 1972. Foto: Temminck Groll.

Benteng Fort Rotterdam sekarang. Foto: Eko Rusdianto.

Sumber:

  • https://www.berdesa.com/sejarah-singkat-candi-borobudur-yang-harus-anda-ketahui
  • https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/07/12/sejarah-hari-ini-12-juli-1975-pertama-kalinya-monas-dibuka-untuk-umum
  • https://www.brilio.net/wow/15-potret-lawas-pembangunan-gedung-sate-ini-bikin-kamu-tahu-rumitnya-171018g.html
  • https://travel.tempo.co/read/1382397/fakta-gedung-sate-usia-100-tahun-6-juta-gulden-dan-peninggalan-krisis-ekonomi
  • https://sampookong.co.id/about/
  • https://www.innagroup.co.id/news/tempat-tujuan:-istana-maimun-saksi-bisu-kejayaan-kesultanan-deli
  • https://tirto.id/sejarah-masjid-raya-baiturrahman-aceh-pendiri-ciri-arsitektur-gcd2
  • https://www.daerahkita.com/artikel/117/sejarah-jam-gadang-ikon-kota-bukittinggi-sumatera-barat
  • https://www.daerahkita.com/artikel/83/sejarah-tugu-khatulistiwa-nol-derajat-pontianak-kalimantan-barat
  • https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/benteng-fort-rotterdam/

Tagline:

Bangunan Sejarah di Indonesia

 

Bangunan Dahulu dan Sekarang

 

Candi Borobudur

 

Monas

 

Gedung Sate

 

Klenteng Sam Poo Kong

 

Istana Maimun

 

Masjid Raya Baiturrahman

 

Jam Gadang

 

Tugu Khatulistiwa

 

Benteng Fort Rotterdam

 

Website ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik.