Beranda / Blog

Tren 2021, Pandemi Covid-19: Minati Properti Menengah Bawah

 23/09/2021

Tren 2021 minati perumahan menengah bawah. Foto: Istockphoto.com.

Jakarta, Properti2 - Jelang memasuki kuartal akhir 2021, tren sektor properti Indonesia lebih minati perumahan menengah bawah dengan permintaan lamban saat pandemi Covid-19.

Hal ini juga karena dukungan pemerintah yang memperkenalkan program 'Satu Juta Rumah', untuk membangun setidaknya 1 juta unit per tahun. Program satu juta perumahan dimaksudkan untuk mengatasi kurangnya investasi di pasar properti dan untuk mengurangi kekurangan perumahan.

Sementara itu juga, tren semakin banyak pengembang yang minati membangun apartemen terjangkau di segmen menengah ke bawah yang menyasar pembeli rumah asli. Tren ini juga meningkatkan persaingan di antara produk-produk tersebut dan diperkirakan akan terus berlanjut dalam waktu dekat.

Kota Jakarta sebagai lokasi utama untuk permintaan properti residensial, baik rumah tapak maupun hunian vertikal, diperkirakan tren minati properti menengah ke bawah akan semakin meningkat setelah adanya proyek infrastruktur pemerintah, yakni mass rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), TOD (pengembangan berorientasi transit) di stasiun komuter, dan jalan tol baru.

Tren Kuartal Awal 2021

Beberapa pengembang mulai memperkenalkan proyek baru mereka pada kuartal 1 2021. Meskipun demikian menurut Collier Indonesia, pertumbuhan permintaan di pasar tetap lamban.

Ferry Salanto dari Collier Indonesia menyebutkan pemerintah telah berupaya memulihkan sektor properti dengan memberikan beberapa stimulus untuk sektor properti residensial, antara lain norma relaksasi properti dari Bank Sentral ditambah dengan regulasi kepemilikan asing untuk apartemen. Selain itu, pembebasan PPN akan bermanfaat bagi upgrader serta pengembang yang masih memiliki inventaris yang belum terjual.

Secara keseluruhan, Ferry berpandangan tahun ini akan tetap menjadi pasar pembeli, dan akan ada pemulihan bertahap namun moderat di pasar.

Tren Kuartal Berikutnya

Menurut laporan Cushman & Wakefield, adanya penguncian kedua (PPKM) karena pandemi Covid-19 yang dimulai pada Juli 2021 berdampak pada kegiatan pasar properti. Pembatasan kegiatan yang semula direncanakan sekitar 3 minggu dan kini diperpanjang, menempatkan pengembang pada pendekatan wait and see karena kegiatan pemasaran akan dibatasi dan calon pembeli diproyeksikan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Selain itu laporan tersebut menyebutkan bahwa meskipun terjadi fluktuasi Rupiah terhadap Dolar AS, tarif sewa rata-rata subsektor apartemen sewa dan apartemen servis relatif tidak berubah pada Rp241.550 dan Rp356.576 per m2 per bulan. (ayu)

Baca juga: Harga Dan Penjualan Perumahan Turun Selama Tahun 2020

Tagline:

Tren Minati Perumahan Menengah Bawah

 

Covid-19

 

Lockdown Pandemi

 

Collier Indonesia

 

Ferry Salanto

 

Cushman & Wakefield

 

Website ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik.